Jateng
Senin, 16 Oktober 2017 - 19:50 WIB

BENCANA JATENG : Duh, Hanya Salatiga, Daerah di Jateng yang Tak Rawan Banjir dan Longsor

Redaksi Solopos.com  /  Imam Yuda Saputra  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Ilustrasi penanggulangan tanah longsor. (JIBI/Solopos/Antara)

Bencana berupa tanah longsor dan banjir mengintai seluruh wilayah di Jawa Tengah (Jateng), kecuali Kota Salatiga.

Semarangpos.com, SEMARANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah (Jateng) memprediksi seluruh wilayah di provinsi tersebut berpotensi mengalami banjir dan tanah longsor pada musim penghujan kali ini. Dari 35 kabupaten dan kota di Jateng itu hanya Salatiga yang tidak masuk dalam kategori rawan.

Advertisement

“Semuanya rawan bencana [longsor dan banjir]. Yang enggak cuma Salatiga. Tapi, bukan berarti pada musim hujan ini Salatiga bebas dari bencana, terutama longsor. Yang rawan mungkin daerah-daerah yang berdekatan dengan Kopeng,” ujar Kepala BPBD Jateng, Sarwa Pramana, saat dijumpai wartawan di Kantor BPBD Jateng, Jl. Imam Bonjol, Kota Semarang, Senin (16/10/2017).

Sementara itu, menurut Sarwa ada lima daerah di Jateng yang paling rawan terkena bencana longsor. Kelima daerah itu, yakni Purworejo, Banyumas, Kebumen, Banjarnegara, dan Cilacap.

“Di Banjarnegara itu, ada 18 kecamatan yang berpotensi terdampak longsor pada musim penghujan ini. Hal itu dipicu adanya pergerakan tanah di sejumlah rumah warga,” imbuh Sarwa.

Advertisement

Untuk mencegah timbulnya korban jiwa akibat bencana longsor, Sarwa mengimbau warga menggunakan ilmu titen atau mencermati dan waspada terhadap kondisi alam. Selain itu, pihaknya memasang early warning system (EWS) di lima kabupaten yang rawan longsor itu.

“Setiap daerah [rawan longsor] baru bisa kami pasang satu EWS karena terbentur mahalnya alat itu, serta alokasi APBD dari pemerintah provinsi,” beber Sarwa.

Selain memasang EWS, BPBD Jateng juga telah melakukan sederet langkah untuk menghadapi bencana longsor. Beberapa upaya itu antara lain mengaktifkan posko siaga hingga mengalokasikan anggaran tidak terduga gubernur sekitar Rp45 miliar untuk penanganan bencana.

Advertisement

BPBD Jateng, lanjut Sarwa, juga telah menyiapkan pengadaan logistik kebencanaan senilai Rp446 juta pada triwulan pertama. Rencana, pada pekan kedua Oktober 2017, BPBD akan kembali mengelontorkan dana senilai Rp181 juta untuk pengadaan logistik kebencanaan.

Sarwa menambahkan musim hujan di Jateng diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir Desember 2018. Musim hujan baru berangsur turun diprediksi pada Februari 2018 mendatang.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif