Jateng
Kamis, 5 November 2015 - 04:50 WIB

BISNIS PROPERTI : Penjualan Rumah Bakal di Bawah Target, Ini Penjelasan REI Jateng

Redaksi Solopos.com  /  Anik Sulistyawati  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Ilustrasi proyek pembangunan perumahan (Paulus Tandi Bone/JIBI/Bisnis)

Bisnis properti di Jawa Tengah diperkirakan penjualannya tak mencapai target.

Kanalsemarang.com, SEMARANG – Real Estate Indonesia (REI) Jawa Tengah pesimitis target penjualan rumah komersial pada tahun ini dapat terpenuhi mengingat kondisi ekonomi yang belum stabil.

Advertisement

“Untuk setiap pameran kami menargetkan terjual 70 unit rumah, tetapi dari awal tahun hingga saat ini baru satu kali pameran yang hasil penjualannya melampaui target,” kata Wakil Ketua REI Jawa Tengah Bidang Promosi, Publikasi, Pameran, dan Humas Dibya K Hidayat pada pembukaan pameran rumah di Mal Paragon Semarang, Rabu (4/11/2015).

Oleh karena itu, pihaknya pesimistis target penjualan rumah melalui pameran pada tahun ini sebanyak 700 unit dapat tercapai.

Advertisement

Oleh karena itu, pihaknya pesimistis target penjualan rumah melalui pameran pada tahun ini sebanyak 700 unit dapat tercapai.

“Bisa memenuhi 80 persen dari target sudah bagus sekali, harapannya di pameran ini hasilnya juga bisa bagus,” katanya.

Sementara itu, pihaknya menilai jika kondisi ekonomi stabil maka masyarakat akan lebih berani mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR) untuk dapat memiliki rumah pribadi.

Advertisement

Namun, dampak negatifnya jika BI rate diturunkan maka investor terutama asing akan memindahkan dana mereka ke luar negeri. Kondisi tersebut dikhawatirkan juga akan berdampak pada sektor properti.

Dibya mengatakan, dengan adanya stabilisasi ekonomi akan membangkitkan keyakinan masyarakat bahwa tidak akan ada gejolak.

“Gejolak ini misalnya saja bunga komersial diterapkan sistem floating, dengan begitu bunga bisa melonjak sewaktu-waktu, ujung-ujungnya berdampak pada kredit macet,” katanya.

Advertisement

Selain itu, perlu juga ada kepastian tidak adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) di kalangan karyawan.

“Takutnya kalau ekonomi tidak stabil bisa saja kena ke sektor usaha dan akhirnya berujung ke PHK, ini hambatan stabilitas ekonomi,” katanya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap sistem fix rate dapat terus diterapkan karena jika dicabut akan sangat berdampak pada penjualan properti khususnya rumah.

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif