Jateng
Minggu, 21 Mei 2023 - 10:35 WIB

Kitab Rambang, Naskah Kuno di Danaraja Tegal yang Masih Terjaga Keasliannya

Novi Tyas Anggraini  /  Ponco Suseno  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Kitab Rambang Tegal. (Istimewa/kebudayaan.pdkjateng.go.id)

Solopos.com, TEGALDesa Danaraja, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, merupakan salah satu desa yang memiliki sejarah tertua dalam penyebaran agama Islam di Kabupaten Tegal.

Kehadiran tokoh Islam seperti Syekh Maulana Maghribi dan Syekh Jambu Karang menjadi bukti sejarah dengan didukung berbagai jenis jejak peninggalan. Di antaranya masjid, pusaka piring panjang, kitab rambang, sumur mata air, dan lainnya.

Advertisement

Peninggalan kitab rambang ini menjadi salah satu media pendukung dalam sejarah penyebaran agama Islam di Tegal. Kitab rambang berupa sebuah naskah yang ditaruh pada kotak kayu jati kuno dan antik serta masih dijaga keasliannya hingga kini.

Diperkirakan, naskah itu pernah dibawa para penyebar Islam yang hijrah ke Indonesia.

Dilansir dari warisanbudaya.kemdikbud.go.id, kitab rambang terdiri dari empat bagian naskah yang disimpan dalam satu kotak antik. Kitab tersebut merupakan kitab kuno yang diturunkan pada keturunan di Danaraja.

Advertisement

Menurut masyarakat setempat, ada dua tokoh penyebar agama Islam di wilayah itu, yaitu Syekh Maulana Maghribi dan Syekh Jambu Karang yang makamnya ada di perbukitan daerah itu.

Kitab rambang ditulis di atas daun lontar dan bertuliskan huruf Jawa dan Arab Pengon yang dibuat sekitar abad ke-19. Sebagai naskah dakwah, kitab ini berisi pesan-pesan luhur mengenai hubungan sosial dan perilaku masyarakat.

Hal itu seperti ada tata cara berperilaku dan menjalani kehidupan, di mana hal tersebut bukan hal yang bersifat menyimpang dengan ajaran agama.

Advertisement

Adanya kitab rambang ini kemudian dijadikan sebuah peringatan setiap tahun di Kabupaten Tegal, khususnya di Desa Danaraja. Peringatan rambang biasanya diadakan bersamaan dengan perayaan Iduladha.

Upacara diadakan dengan mengarak naskah atau kitab rambang dan dipikul oleh warga untuk diarak keliling desa. Prosesi upacara pertama adalah melakukan tumpengan.

Kemudian dilanjutkan pembacaan sejarah kitab rambang, penayangan seni braen (tembangan/suluk yang berisi nilai kecintaan kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW) serta menunjukan barang-barang kuno, seperti piring porselen panjang, dan kitab rambangnya.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif