Jateng
Senin, 30 Januari 2017 - 00:50 WIB

MAHASISWA UII MENINGGAL : Diksar dengan Kekerasan Ketinggalan Zaman

Redaksi Solopos.com  /  Rahmat Wibisono  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (Facebook.com-Ganjar Pranowo)

Mahasiswa UII yang meninggal dunia saat Diksar Mapala Unisi dianggap Ganjar Pranowo menunjukkan mapala bersangkutan ketinggalan zaman.

Semarangpos.com, SEMARANG — Mantan Ketua Mahasiswa Pecinta Alam Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada yang kini Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengingatkan para juniornya di organisasi-organisasi pencinta alam untuk menanggalkan segala bentuk kekerasan yang dapat membahayakan nyawa seseorang.

Advertisement

Peringatan itu dikemukakan Ganjar Pranowo menyusul tersiarnya kabar adanya tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) yang meninggal dunia saat mengikuti pendidikan dasar Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Unisi di lereng Gunung Lawu, Tlogodlingo, Tawangmangu, Karanganyar, Jateng, 13-20 Januari 2017 lalu.

Diakui Ganjar, kala mengawali aktivitas sebagai mapala, dirinya juga menerima pelatihan fisik yang keras pada pelaksanaan pendidikan dasar, namun bukan tindak kekerasan seperti pemukulan. “Saya kecewa jika unsur kekerasan dilakukan oleh mahasiswa pencinta alam, apalagi hal itu dilakukan saat kegiatan pelatihan dasar,” katanya di Semarang, Kamis (26/1/2017).

Lagi pula, imbuhnya, tindak kekerasan dalam pelatihan dasar—organisasi apapun—tak lagi cocok dengan situasi dan kondisi masa kini. Organisasi mahasiswa yang masih menerapkan pola pelatihan semacam itu, menurutnya ketinggalan zaman. “Hari gini enggak cocok [pendidikan dasar disertai kekerasan], saya dulu pas waktu latsar keras, tapi enggak dipukul,” ujarnya.

Advertisement

Kalaupun pelatihan dasar harus dilakukan dengan keras, maka hal itu menurut Ganjar, harus mengacu pada standardisasi tertentu, mulai dari tahapan, ukuran pelatihan hingga kesiapan fisik peserta didik. Pendidikan dasar, kata Ganjar, juga harus benar-benar melihat kondisi kesehatan peserta didik apakah yang bersangkutan siap untuk latihan tertentu di lapangan.

“Aturan sudah cukup baik, namun terkadang hal itu dipraktikkan dengan cara berlebihan, salah satu kasus bahwa latihan itu dilakukan dengan menguras waktu hingga berkesan pemaksaan,” tuturnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif