Jateng
Minggu, 30 April 2023 - 11:45 WIB

Mengenal Kiai Ageng Gringsing Batang, Tokoh Penyebar Islam Berjiwa Kesatria

Novi Tyas Anggraini  /  Ponco Suseno  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Makam Kiai Ageng Gringsing Batang. (Istimewa/laduni.id)

Solopos.com, BATANG — Nama Kiai Ageng Gringsing mungkin sudah tak asing lagi bagi masyarakat pesisir laut Jawa, khususnya daerah Batang, Jawa Tengah.

Namanya semakin banyak dihormati orang karena dikenal sebagai sosok yang memiliki jiwa kesatria tinggi untuk mengabdikan dirinya untuk rakyat kecil. Selain itu ia juga merupakan seorang tokoh yang menyabarkan dakwah agama Islam di daerah Gringsing Alas Roban ini.

Advertisement

Melansir dari ojs.batangkab.go.id, Kiai Ageng Gringsing merupakan seorang pangeran yang mengembara dari daerah Gunungpati, Cirebon, Jawa Barat. Nama aslinya adalah Syekh Maulana Raden Abdullah Saleh Sungging.

Dalam perjalanannya menyebarkan agama Islam di wilayah Jateng, Kiai Ageng Gringsing sampai di daerah Gringsing, Kadipaten Batang, tepatnya di Desa Kendalsari Sembung, Kecamatan Limpung. Kiai Ageng Gringsing tiba sekitar tahun 1600-an.

Dalam menyebarkan dakwah di daerah Gringsing ini juga tidak mudah, banyak rintangan yang dihadapinya. Konon saat itu daerah ini terkenal dengan banyaknya begal, rampok, bandit, dan Garong.

Advertisement

Hal itulah yang menyebabkan banyak tokoh penyebar agama menyerah untuk mensyiarkan ajaran Islam di daerah ini. Selain itu konon katanya di daerah ini sering dihuni makhluk astral seperti demit, jin, dan raja jin yang membuat daerah ini semakin menakutkan.

Kiai Ageng Gringsing memperkuat tekadnya untuk tetap mensyiarkan agama Islam di daerah tersebut. Lantaran sifat pasrah dan ikhlas inilah, Kiai Ageng Gringsing mampu menghadapi semuanya dengan rasa tawakal dan pasrah hanya kepada Allah SWT.

Semangat juangnya malah semakin membara. Bahkan tidak sedikit dari para begal dan garong berhasil disadarkan serta di Islamkan oleh beliau.

Advertisement

Sebagai wali Allah, beliau juga diberkati kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Di antaranya saat beristirahat, Kiai Ageng Gringsing menancapkan tongkatnya ke tanah. Tiba-tiba tongkat tersebut bersemi dan menjadi sebatang pohon untuk tempatnya meneduh. Bahkan pohon itu masih ada sampai sekarang, pohon itu diberi nama pohon Kendalsari.

Makam Kiai Ageng Gringsing juga masih dirawat dan sering dilakukan kegiatan doa bersama di sana sebagai bentuk penghormatan. Kegiatan tersebut biasa dilakukan setiap bulan Muharam karena ditemukannya makam Kiai Ageng Gringsing itu bertepatan bulan Muharam.

Makam Kiai Ageng Gringsing sendiri terletak di Desa Kendalsari Sembung, Kecamatan Limpung, Batang, Jawa Tengah.

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif